Sabtu, 03 Juli 2010

0

DEHIDRASI PENDIDIKAN

  • Sabtu, 03 Juli 2010
  • Nurkholish Ardi Firdaus
  • Share
  • DEHIDRASI PENDIDIKAN

    Pengajar gambaran nuansa dalang mengemukakan analisa tema yang diwujudkan dalam apresiasi sesuai kehendak lakon. Pada setiap kesempatan orasi si empunya tujuan menjabarkan setiap mimik dalam gerakan kehidupan wayang. Bentuk ketekunan wayang terlihat saat dalang menjabarkan detik demi detik cerita di bingkai rias. Suatu saat ada perubahan karakter dalang sehingga muncul gejolak pada diri wayang. Dengan seenaknya dalang memainkan wayangnya seolah hidup untuk menghancurkan wayang, namun tidak demikian justru si dalang piawai dalam menekuni warna setiap wayang yang dia sentuh dengan ketangkasan indera keenamnya. Tembuslah batasan dalang dan wayang manakala wayang yang mati berubah menjadi hidup punya impian dan naluri. Jadilah kehidupan antara dalang bagaikan siang dan malam, bagaikan sabun dan tubuh menyatu menelusuri indahnya tema cerita menyentuh perasaan penonton.

    Yah, begitulah bentuk dari wayang dan dalangnya, ada tema cerita bisa berjalan dengan lancar menggugah perasaan penonton memasukkan super ego penonton tentang petuah-petuah hidup yang dituangkan pada setiap moment cerita, yang tentunya unsur menghibur juga menjadi tujuannya pula. Seperti kehidupan di dunia pendidikan antara guru dan siswa. Reaksi yang ditimbulkan gurunya akan menjadikan aksi siswanya. Setiap hari kehidupan itu muncul beraneka ragam kadang ada yang nangis, kadang ada yang meringis kadang ada juga dari mereka yang teriris-iris. Kenapa demikian, adalah hal yang normal apabila gejolak ekses dari pembelajaran adalah melahirkan produk-produk ilegalnya sifat anak didik. Ada yang suka gurunya tetapi di belakang mencibir, ada yang melecehkan gurunya tetapi diam-diam sayang. Ada pula yang kurang ajar yaitu “memperkosa gurunya” alias menikahi gurunya.

    Perubahan-perubahan kondisi pelajar adalah wajar saat mereka mengalami dehidrasi pikiran dari kurang tahu menjadi tahu dari tidak paham menjadi mengerti dari kedelai jadi tempe dan sebagainya. Ada pemikiran professional pada setiap siswa manakala mereka meninjau iklim yang ada disekitar almamaternya. Ada sikap rasa sosial bila mereka beradaptasi dengan temannya. Ada pola kognisi dalam gerak langkah intelegensi mereka. Ada karakter membangun dalam menembus sulitnya pemahaman materi yang disampaikan guru. Begitu sulitnya menjalankan gerak langkah kualitas pengajar untuk upaya membangun anak bangsa yang mulai luntur etika budayanya. Hari demi hari berjalan tanpa akhir dengan imbalan finansial yang dibawah standart tukang kayu/bangunan harus bisa menganalisa gerakan manusia-manusia yang sedang haus sesuai dengan jiwa mereka yang masih remaja. Pengajar dituntut bekerja keras memukul-mukul batu yang keras, tajam dan runcing serta getas ditempa supaya menjadi batu meteor dengan tidak mempertimbangkan sebagai pemikir tetapi terkesan dan nyata sebagai pekerja jauh dari kenyataan bahwa mereka adalah seorang pemikir. Dari learning to do sampai learning of love digulirkan untuk mendobrak kelemahan sistim pembelajaran namun yang ada adalah jaman yang terus menggerogoti akhlak moral peserta didik dan pengajarnya. Pakar boleh melakukan segala macam proses penelitian namun kesetaraan dan kemajemukan dan budaya tiap daerah berbeda dan jelas peserta didik mengikutinya.

    Kalau menyatakan kondisi demikian adalah berangkat dari birokrasi yang memungkinkan memanusiakan manusia sesuai proporsinya. Kenyataan ini banyak menjadi momok memilukan di kalangan pekerja guru/pengajar/karyawan sekolah. Kalau ditarik suatu benang ruwet atau kesimpulannya manakala lahir pendidik haruslah disertai dengan kokohnya pondasi bangunan birokrasi tersebut bukannya kokohnya bangunan tempat pembelajaran hingga bertingkat-tingkat hampir menembus langit ketujuh (kata Kangen Band). Menjadi wacana juga dalam awal perintisan bahwa manajemen waktu yang disertai analisa perubahan zaman yang akan menuangkan maket peserta didik kelak yang diperjuangkan mengarungi bahtera ganasnya kehidupan di alam Indonesia. Awal menanam membutuhkan orang-orang yang berkualitas yang saling diuntungkan jasa dan kehendaknya, hingga tercapai jauhnya lautan. Menuangkan pembelajaran oleh siapapun yang menamakan dirinya guru, ustad dan ulama haruslah dimasukkan pemahaman bagaimana zaman yang dipakai untuk menuangkan ide, ilmu dan semua harapan pahala ayat tersampaikan pada kondisi zaman yang sesuai dengan peserta didik. Karena tidaklah mampu menghasilkan produk dari rasa, karsa dan karya akan terwujud menjadi insan kamil saat mereka dicekoki oleh kondisi yang tidak pas pada diri dan saat mereka dilahirkan sekarang.

    Belumlah berakhir gejolak rasa pengajar, akhir tahun dihujam berbagai dilematis hasil akhir peserta didik dalam mencoba meraih cita, adanya UN yang menjadi buah bibir dam momok semua orang bahkan orang tua sampai terkencing-kencing menanti kelulusan anak-anak mereka. Padahal semua berangkat dari sebuah ihktiar dan Tuhanlah yang akan menilainya dengan ketamajan amalnya mampu dalam kondisi terbaik siap menyelesaikan semua soal di UN. Yang ada tuntutan demi ocehan saut-sautan di telinga pengajar pro kontra bila lulus disanjung bila gagal dicekoki hinaan. Dan masih banyak lagi gejolak yang ada melengkapi majunya teknologi menghujam dehidrasi pendidikan sekarang. Banyak hal yang kurang pas digelar untuk menyelesaikan UN demi anak didik mereka menyelesaikan studinya. Tapi secara sadar seorang pengajar sangatlah terpukul manakala hasil akhir pendidikan belumlah dikatakan jujur, mereka sedih dan kecewa karena tidak bisa berbuat banyak untuk kelangsungan pendidikan yang terbaik. Inilah lunturnya makna kebersamaan dalam menembus kekuatan pendidikan yang sebenarnya.

    Begitu rumitnya pemahaman tentang praktek dalam mencerdaskan anak bangsa yang tidak sesuai dengan omongan dan argument seseorang. Disadari atau tidak mereka jelas tidak sadar karena maqomnya sudah jauh melebihi orang kebanyakan. Yang ada mereka berjalan menengadah tanpa menengok pundak mereka yang berat menopang sisa pahala yang berobah jadi tumpukan dosa karena tidak sadar bahwa setiap hari mereka membuat perubahan umat tetapi menisbihkan akhlak sosial sesama makhluk Allah SWT.

    Penjabarannya adalah politisir-politisir untuk meluaskan perut, mengisi kekosongan hati dengan menggeser teman, rekan kerja, saudara dan aparat. Hal inilah yang memungkinkan penulis menuangkan gempuran agresi lewat wacana pemerhati dan pendobrak tatanan yang disalah artikan dan menjadi bumerang bagi manusia yang mencoba tawadlu setiap saat apapun gejolak keadaan fisik dan psikis mereka. Sudahkah ini jadi hal yang masuk akal dan manusiawi bila ada ubi mestinya ada talas atau “ada budi ada balas”. Pertanyaan tinggallah pertanyaan, sanggahan tinggallah sanggahan, apalagi orasi tinggal peti mati. Itukah wujud masyarakat yang humanis dan madani di kalangan Nahdiyin saat ini atau dari dulu?. Sudahlah beribadahlah sesuai kemampuanmu serta imbalanmu!!. Itukah yang muncul di benak sufi manakala keringkat kering terkikis habis sementara dollar jauh tergantung di atap mesiu?. Yang pe en es saja mereka kembang kempis menghidupi anak dan keluarga mereka yang nyata-nyata sudah dikontrak seumur hidup oleh pemerintah dan dijamin hidupnya sampe mati. Nyatanya mereka sekolah, SK mereka juga banyak yang disekolahkan sampai akhir pensiun bahkan akhir hayatnya sungguh sangat tragis. Terus bagaimana nasib pengajar-pengajar yang tidak memiliki baju kebesaran tanggal 17, NIP dan nama serta emblem, tengoklah mereka bagaimana kerasnya upaya mencerdaskan anak bangsa, mudah sekali dibayangkan susah dan tidak akan mau merasakan hal serupa. Dan sekelumit kisah yang lain terus bergulir dalam nuansa alam pendidikan.

    Sementara yang lebih payah jajaran elit sekolah meraung meraup ambisi meniti rupiah demi rupiah menggeser rintangan yang dilaluinya tanpa sadar maupun meliriknya. Menghardik, memfitnah, bahkan menjatuhkan kawan dan lawan untuk keserakahan akhlak membesarkan buah hati. Mampukah dikatakan barokah rupiah yang berubah jadi dollar tersebut menembus perut-perut buah hati mereka meninggalkan luka yang parah. Saya membuat gubahan ornamen tulisan ini mencoba merubah kondisi madani menjadi kondisi islami yang sederhana tanpa kiasan apa-apa supaya mampu menerjemahkan arti silaturahmi nantinya. Karena siapa lagi yang mau dan berani berbicara lewat tatap muka maupun lewat lembaran kertas ini kalau bukan manusia biasa seperti saya. Marilah kita duduk sama rata beralaskan tikar yang lusuh disamping comberan dengan bau menyengat supaya masing-masing bisa merasakan pahit getirnya hidup di alam fana ini secara istiqomah. Istiqomah mencintai sesama, istiqomah memberi rasa aman bukannya istiqomah dalam beribadah dengan kandungan maksud selain Allah. Dan istiqomah mutlak kepada Allah. Tentunya sangatlah sulit kalau kita istiqomah dalam berjamaah, sudah sholat saja sudah bisa dikatakan syukur nikmat walaupun bolong-bolong. Semua yang menilai adalah Allah dan gambaran pahalanya tentunya wewenang Allah juga. Sadarkah setiap waktu kita mendolimi makhluk tanpa sadar, nyamuk yang kita bunuh contoh kecil makhluk yang butuh hidup walaupun dia sebagai virus.

    Sedikit wawasan keilmuan religi yang saya miliki, namun setiap detik dan setiap saat saya selalu merenung lewat berjalannya waktu untuk mencari kehendak Allah ke makhluk-makhluknya siang dan malam. Berharap bisa menemukan surganya Allah kelak di negeri keabadian (akherat). Alhamdulillah saya merampungkan coretan ini, berharap perubahan yang mendasar di lingkungan masyarakat madani kita, bahwa hidup haruslah selalu bersyukur namun setiap usaha seorang pemikir tidaklah tepat kalau dikasih pahala seperti seorang pencari kayu bakar di tengah hutan belantara yang modern ini. Apalagi disusupi dengan manusia-manusia yang mencoba menghancurkan sistim menaikkan ambisi pribadi yang masih dipertahankan keberadaannya. Minimal terkandung maksud supaya mawas diri bahwa hidup bersama rekan kerja haruslah saling menopang satu sama lain bukannya meluangkan waktunya untuk membunuh temannya sendiri tanpa nafas kesadaran hati. Demikian apa yang saya paparkan secara jelas dan membingungkan bagi pembacanya. Terima kasih bagi yang membacanya, syukur bisa dimengerti harapannya bisa ditindaklanjuti menjadi suatu keadaan yang menyenangkan atau riilnya. Berharap juga jadilah upaya pemulihan kehendak bagi yang diberi mandat.. Wallahu ‘alam ….. Amien

    Penulis,
    Sison Garichu (Muhshonu Rohman, ST)
    Pengajar SMK Ma'arif 1 Kroya
    [email protected]

    Jangan Lupa Komentar Yaa..
    Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

    0 Komentar Untuk “DEHIDRASI PENDIDIKAN”

    Posting Komentar

    Berikan komentar positif tentang artikel yang sederhana ini niscaya sobat akan mendapatkan balasannya. Hehehe

    Subscribe