Selasa, 13 Juli 2010

2

3500 Genuine Serials Microsoft Products

  • Selasa, 13 Juli 2010
  • Nurkholish Ardi Firdaus
  • Crowja-Coderz
    0

    Pemograman Form Pada VB.NET

  • Nurkholish Ardi Firdaus
  • Crowja-Coderz
    0

    Pengenalan Email Dengan Telkom.net - mail

  • Nurkholish Ardi Firdaus
  • Crowja-Coderz
    2

    Pengantar Algoritma Dan Pemograman Komputer

  • Nurkholish Ardi Firdaus
  • Crowja-Coderz
    0

    Pemograman Database Dengan ADO Pada VB

  • Nurkholish Ardi Firdaus
  • Crowja-Coderz
    2

    Pemograman GDI Pada VB.NET

  • Nurkholish Ardi Firdaus
  • Crowja-Coderz
    0

    Pemograman Database Dengan DAO Pada VB

  • Nurkholish Ardi Firdaus
  • Crowja-Coderz
    0

    Pemrograman C

  • Nurkholish Ardi Firdaus
  • Crowja-Coderz
    0

    Pemanfaatan Crystal Report Pada VB6

  • Nurkholish Ardi Firdaus
  • Crowja-Coderz

    Senin, 12 Juli 2010

    0

    Foto-foto lucu produk plagiat

  • Senin, 12 Juli 2010
  • Nurkholish Ardi Firdaus















































  • 0

    Virus Baru Dan Terganas 2010

  • Nurkholish Ardi Firdaus
  • Di dunia komputerisasi, anda pasti sudah tidak asing lagi dengan istilah "Virus", sebenarnya dalam hukum Cyber Internasional, barangsiapa yang menciptakan sebuah virus baru, maka dia juga harus membuat penawarnya. Setiap hari sebenarnya muncul variant-variant baru Virus tanpa hentinya.

    10 Virus Terganas

    1. Trojan-Downloader.Win32.Agent.dbfs
    2. Net-Worm.Win32.Kido.ih
    3. Packed.Win32.Krap.ag
    4. not-a-virus:AdWare.Win32.Zwangi.ch
    5. not-a-virus:AdWare.Win32.EZula.heur
    6. not-a-virus:AdWare.Win32.Agent.lmz
    7. P2P-Worm.Win32.Polip.a
    8. Packed.Win32.Krap.an
    9. rojan-Dropper.Win32.Boaxxe.bm
    10. HEUR:Trojan.Win32.Generic
    1

    Firefox tidak bisa dibuka

  • Nurkholish Ardi Firdaus
  • Pernahkah anda membuka Mozilla Firefox tetapi mucul pesan seperti ini:
     





    Pesan errornya:

    Firefox is already running, but is not responding. To open new window, you must first close the existing Firefox process, or restart your system.

    Untuk memperbaikinya cukup mudah:
    1. Start -> Run
    2. Ketik
    tskill firefox
    Enter

    Sudah deh, coba anda membuaka Firefoxnya lagi.
    3

    Remove Sality Dari FlashDisk

  • Nurkholish Ardi Firdaus
  • Bermasalah dengan virus Sality?, berikut adalah cara untuk melenyapkannya dari PC kamu.



    Download dulu toolnya, Sality Killer:



    Crowja-Coderz



    1. Extract salitykiller.exe dari asrip ZIP nya ke drive "C:" atau Drive system kamu

    2. Tancapkan FlashDisk ke PC

    3. Tunggu hingga flashdisk terlihat di Windows Explorer

    4. Start -> Run -> cmd -> Enter Atau Start -> Programs -> Accessories -> Command Prompt

    5. Akan keluar jendela CMD

    6.

    cd\
    Enter

    7.

    salitykiller -r
    Enter



    8. Tunggu hingga prosses selesai dan Flashdisk kamu akan dibebaskan dari Sality. Semua file exe yang terinfeksi oleh CRC Sality akan diperbaiki dan bukan di hapus, jadi tenang saja. 95% semua file exe nya akan kembali pulih.

    Kamis, 08 Juli 2010

    0

    Bahasa Malaysia

  • Kamis, 08 Juli 2010
  • Nurkholish Ardi Firdaus
  • * INDONESIA : Kementerian Hukum dan HAM
    * MALAYSIA : Kementerian Tuduh Menuduh

    * INDONESIA : Kementerian Agama
    * MALAYSIA : Kementerian Tak Berdosa

    * INDONESIA : Angkatan Darat
    * MALAYSIA : Laskar Hentak-Hentak Bumi

    * INDONESIA : Angkatan Laut
    * MALAYSIA : Angkatan Basah Kuyup

    * INDONESIA : Angkatan Udara
    * MALAYSIA : Laskar Angin-Angin

    * INDONESIA : Pasukan bubar jalan !!!
    * MALAYSIA : Pasukan cerai berai !!!

    * INDONESIA : Merayap
    * MALAYSIA : Bersetubuh dengan bumi

    * INDONESIA : Purnawirawan militer
    * MALAYSIA : Pasukan tak berguna

    * INDONESIA :rumah sakit bersalin
    * MALAYSIA : hospital korban lelaki

    * INDONESIA : menteri kehutanan
    * MALAYSIA :menteri semak belukar

    * INDONESIA : telepon selular
    * MALAYSIA : talipon bimbit

    * INDONESIA : toilet
    * MALAYSIA :bilik termenung

    * INDONESIA : Pasukan terjung payung
    * MALAYSIA : Aska begayut

    * INDONESIA : ES Campur
    * MALAYSIA : ABC(Ais Batu Campur)

    * INDONESIA : belok kiri, belok kanan
    * MALINGSIA : pusing kiri, pusing kanan

    * INDONESIA : buldozer
    * MALINGSIA : setrika bumi

    * INDONESIA : penghapus
    * MALINGSIA : pemadam

    * INDONESIA : Departemen Pertanian
    * MALAYSIA : Departemen Cucuk Tanam

    * INDONESIA : sendok
    * MALAYSIA : centong

    * INDONESIA : centong
    * MALAYSIA : sendok

    * INDONESIA : 6.30 = jam setengah tujuh
    * MALAYSIA : 6.30 = jam enam setengah

    * INDONESIA : gratis ngobrol 30 menit
    * MALINGSIA: percuma berbual 30 minit

    * INDONESIA : tidak bisa
    * MALINGSIA: tak boleh

    * INDONESIA : ok lah, gw mo tidur dulu
    * MALINGSIA: k larr, aku nak tido

    * INDONESIA : WC
    * MALINGSIA: tandas

    * INDONESIA : anak kecil
    * MALAYSIA : budak cilik

    * INDONESIA : Satpam
    * MALAYSIA : Penunggu Maling

    * INDONESIA : Mil/per-jam (MPH)
    * MALAYSIA : Batu-sejam (Bsj) Ni bangsa masih jaman Batu ternyata…

    * INDONESIA : Polisi
    * MALAYSIA : Pak Rela (bukannya polis bro)

    * INDONESIA : Aduk
    * MALAYSIA : Kacau

    * INDONESIA : Di aduk hingga merata
    * MALAYSIA : kacaukan tuk datar

    * INDONESIA : anak kecil lagi kejar-kejaran
    * MALAYSIA : tak boleh kau memburu dia

    * INDONESIA : 7 putaran
    * MALAYSIA : 7 pusingan

    * INDONESIA : Imut-imut
    * MALAYSIA : Comel benar

    * INDONESIA : pejabat negara
    * MALAYSIA : kaki tangan negara

    * INDONESIA : pesawat terbang
    * MALAYSIA : Kapal terbang ( mang bisa terbang??? )

    * INDONESIA : Merdeka
    * MALAYSIA : Kiamad

    di kutip dari : http://www.kaskus.us/showthread.php?t=2461606

    Sabtu, 03 Juli 2010

    1

    Gemparnya fitroh manusia

  • Sabtu, 03 Juli 2010
  • Nurkholish Ardi Firdaus
  • Gemparnya fitroh manusia

    Sebatas apakah manusia berfikir dan melakukan sebuah keadaan menuju kebahagiaan dan ketenangan??. Banyak hal yang membuat kita sebagai insan menjadi seorang yang mempunyai banyak aktifitas tetapi jiwa yang tenang dan damai. Yang pertama adalah agama, yang kedua adalah uang dan yang ketiga ketenangan jiwa dan nikmat sehat. Ada lima hal lagi yang membuat manusia akan selalu merasa bersyukur atas nikmatnya yaitu pertama dia punya anak, yang kedua anaknya mirip dengan dia, yang ketiga punya tempat tinggal, yang keempat mempunyai pekarangan, yang kelima mempunyai kendaraan. Ada sebuah perumpamaan bahwa apabila sebuah benda terkena sesuatu yang berlawanan benda tersebut tidak bisa menyatu atau trouble mixture. Contohnya seperti sebuah zat cair antara air dan minyak. Adakah saat mereka akan bertemu?. Padahal ada hal yang perlu dicermati saat minyak bertemu air dan sabun colek adalah satu kesatuan yang utuh yang bisa membuat hilangnya kotoran membandel di bagian-bagian mesin. Sementara sebuah tips kadang tidak bisa dicerna manakala kita kurang bisa menganalisa apakah sesuatu itu bermanfaat ataukah kita kurang bisa memberikan pelayanan kepada ide-ide yang ada di benak kita dan mengabaikannya lantaran lebih memilih sesuatu yang lebih mudah yaitu membeli langsung kesenangan kita dengan kekuatan finansial.

    Di antara semua hal yang menarik di dunia bagi manusia adalah rasa senang atau bahagia. Kategori kebahagiaan secara harfiah adalah manusia dengan kebutuhan di dunia antara harapan dan kenyataan mengalami keseimbangan atau setidaknya banyak harapan kita yang terlaksana dalam sebuah kenyataan hidup. Selebihnya adalah sebuah perjalanan yang panjang menuju akherat yang setiap orang akan mengalami perbedaan psikis dan psikologis dalam kesiapannya lepas dari dunia ini alias mati. Semua itu adalah kenyataan yang tidak bisa ditolak oleh siapapun. Dulu dan sekarang dengan perbedaan peradaban menjadikan manusia tidak lepas dari semua hal yang berbau kenyataan. Teknologi, semakin kita menemukan kemudahan dalam berinteraksi dengan sesama manusia di muka bumi semakin kita akan menemukan banyaknya kebahagiaan yang tersembunyi diantara kesibukan kita. Semakin dimudahkan dengan alat seseorang akan mengalami banyak hal yang membuat pola fikir kita semakin menyenangkan dan menggairahkan. Namun adalah wajah budaya timur yang membuat manusia kita (Indonesia) sedikit menerima indahnya sebuah fitroh manusia dengan berbagai macam alas an antara tabu, dosa, kurang etis, kurang manusiawi dan sebagainya. Sementara sebuah ilmu yang dipaparkan oleh para ulama kita sudah menjelaskan secara gamblang berbagai macam adab yang budaya dalam mengolah akhlak menuju keindahan dan kenikmatan. Apakah semua hal yang berbau mudhorot akan membatasi hubungan sesama manusia ataukah norma adalah kendali dari itu semua? Jawabannya adalah keteladanan rosul yang bijaksana dengan diiringi dengan keindahan rosul dalam menyikapi fitroh manusia tersebut.


    Oleh : Mukhsonu Rohman ST
    SMK Ma'arif 1 Kroya

    0

    DEHIDRASI PENDIDIKAN

  • Nurkholish Ardi Firdaus
  • DEHIDRASI PENDIDIKAN

    Pengajar gambaran nuansa dalang mengemukakan analisa tema yang diwujudkan dalam apresiasi sesuai kehendak lakon. Pada setiap kesempatan orasi si empunya tujuan menjabarkan setiap mimik dalam gerakan kehidupan wayang. Bentuk ketekunan wayang terlihat saat dalang menjabarkan detik demi detik cerita di bingkai rias. Suatu saat ada perubahan karakter dalang sehingga muncul gejolak pada diri wayang. Dengan seenaknya dalang memainkan wayangnya seolah hidup untuk menghancurkan wayang, namun tidak demikian justru si dalang piawai dalam menekuni warna setiap wayang yang dia sentuh dengan ketangkasan indera keenamnya. Tembuslah batasan dalang dan wayang manakala wayang yang mati berubah menjadi hidup punya impian dan naluri. Jadilah kehidupan antara dalang bagaikan siang dan malam, bagaikan sabun dan tubuh menyatu menelusuri indahnya tema cerita menyentuh perasaan penonton.

    Yah, begitulah bentuk dari wayang dan dalangnya, ada tema cerita bisa berjalan dengan lancar menggugah perasaan penonton memasukkan super ego penonton tentang petuah-petuah hidup yang dituangkan pada setiap moment cerita, yang tentunya unsur menghibur juga menjadi tujuannya pula. Seperti kehidupan di dunia pendidikan antara guru dan siswa. Reaksi yang ditimbulkan gurunya akan menjadikan aksi siswanya. Setiap hari kehidupan itu muncul beraneka ragam kadang ada yang nangis, kadang ada yang meringis kadang ada juga dari mereka yang teriris-iris. Kenapa demikian, adalah hal yang normal apabila gejolak ekses dari pembelajaran adalah melahirkan produk-produk ilegalnya sifat anak didik. Ada yang suka gurunya tetapi di belakang mencibir, ada yang melecehkan gurunya tetapi diam-diam sayang. Ada pula yang kurang ajar yaitu “memperkosa gurunya” alias menikahi gurunya.

    Perubahan-perubahan kondisi pelajar adalah wajar saat mereka mengalami dehidrasi pikiran dari kurang tahu menjadi tahu dari tidak paham menjadi mengerti dari kedelai jadi tempe dan sebagainya. Ada pemikiran professional pada setiap siswa manakala mereka meninjau iklim yang ada disekitar almamaternya. Ada sikap rasa sosial bila mereka beradaptasi dengan temannya. Ada pola kognisi dalam gerak langkah intelegensi mereka. Ada karakter membangun dalam menembus sulitnya pemahaman materi yang disampaikan guru. Begitu sulitnya menjalankan gerak langkah kualitas pengajar untuk upaya membangun anak bangsa yang mulai luntur etika budayanya. Hari demi hari berjalan tanpa akhir dengan imbalan finansial yang dibawah standart tukang kayu/bangunan harus bisa menganalisa gerakan manusia-manusia yang sedang haus sesuai dengan jiwa mereka yang masih remaja. Pengajar dituntut bekerja keras memukul-mukul batu yang keras, tajam dan runcing serta getas ditempa supaya menjadi batu meteor dengan tidak mempertimbangkan sebagai pemikir tetapi terkesan dan nyata sebagai pekerja jauh dari kenyataan bahwa mereka adalah seorang pemikir. Dari learning to do sampai learning of love digulirkan untuk mendobrak kelemahan sistim pembelajaran namun yang ada adalah jaman yang terus menggerogoti akhlak moral peserta didik dan pengajarnya. Pakar boleh melakukan segala macam proses penelitian namun kesetaraan dan kemajemukan dan budaya tiap daerah berbeda dan jelas peserta didik mengikutinya.

    Kalau menyatakan kondisi demikian adalah berangkat dari birokrasi yang memungkinkan memanusiakan manusia sesuai proporsinya. Kenyataan ini banyak menjadi momok memilukan di kalangan pekerja guru/pengajar/karyawan sekolah. Kalau ditarik suatu benang ruwet atau kesimpulannya manakala lahir pendidik haruslah disertai dengan kokohnya pondasi bangunan birokrasi tersebut bukannya kokohnya bangunan tempat pembelajaran hingga bertingkat-tingkat hampir menembus langit ketujuh (kata Kangen Band). Menjadi wacana juga dalam awal perintisan bahwa manajemen waktu yang disertai analisa perubahan zaman yang akan menuangkan maket peserta didik kelak yang diperjuangkan mengarungi bahtera ganasnya kehidupan di alam Indonesia. Awal menanam membutuhkan orang-orang yang berkualitas yang saling diuntungkan jasa dan kehendaknya, hingga tercapai jauhnya lautan. Menuangkan pembelajaran oleh siapapun yang menamakan dirinya guru, ustad dan ulama haruslah dimasukkan pemahaman bagaimana zaman yang dipakai untuk menuangkan ide, ilmu dan semua harapan pahala ayat tersampaikan pada kondisi zaman yang sesuai dengan peserta didik. Karena tidaklah mampu menghasilkan produk dari rasa, karsa dan karya akan terwujud menjadi insan kamil saat mereka dicekoki oleh kondisi yang tidak pas pada diri dan saat mereka dilahirkan sekarang.

    Belumlah berakhir gejolak rasa pengajar, akhir tahun dihujam berbagai dilematis hasil akhir peserta didik dalam mencoba meraih cita, adanya UN yang menjadi buah bibir dam momok semua orang bahkan orang tua sampai terkencing-kencing menanti kelulusan anak-anak mereka. Padahal semua berangkat dari sebuah ihktiar dan Tuhanlah yang akan menilainya dengan ketamajan amalnya mampu dalam kondisi terbaik siap menyelesaikan semua soal di UN. Yang ada tuntutan demi ocehan saut-sautan di telinga pengajar pro kontra bila lulus disanjung bila gagal dicekoki hinaan. Dan masih banyak lagi gejolak yang ada melengkapi majunya teknologi menghujam dehidrasi pendidikan sekarang. Banyak hal yang kurang pas digelar untuk menyelesaikan UN demi anak didik mereka menyelesaikan studinya. Tapi secara sadar seorang pengajar sangatlah terpukul manakala hasil akhir pendidikan belumlah dikatakan jujur, mereka sedih dan kecewa karena tidak bisa berbuat banyak untuk kelangsungan pendidikan yang terbaik. Inilah lunturnya makna kebersamaan dalam menembus kekuatan pendidikan yang sebenarnya.

    Begitu rumitnya pemahaman tentang praktek dalam mencerdaskan anak bangsa yang tidak sesuai dengan omongan dan argument seseorang. Disadari atau tidak mereka jelas tidak sadar karena maqomnya sudah jauh melebihi orang kebanyakan. Yang ada mereka berjalan menengadah tanpa menengok pundak mereka yang berat menopang sisa pahala yang berobah jadi tumpukan dosa karena tidak sadar bahwa setiap hari mereka membuat perubahan umat tetapi menisbihkan akhlak sosial sesama makhluk Allah SWT.

    Penjabarannya adalah politisir-politisir untuk meluaskan perut, mengisi kekosongan hati dengan menggeser teman, rekan kerja, saudara dan aparat. Hal inilah yang memungkinkan penulis menuangkan gempuran agresi lewat wacana pemerhati dan pendobrak tatanan yang disalah artikan dan menjadi bumerang bagi manusia yang mencoba tawadlu setiap saat apapun gejolak keadaan fisik dan psikis mereka. Sudahkah ini jadi hal yang masuk akal dan manusiawi bila ada ubi mestinya ada talas atau “ada budi ada balas”. Pertanyaan tinggallah pertanyaan, sanggahan tinggallah sanggahan, apalagi orasi tinggal peti mati. Itukah wujud masyarakat yang humanis dan madani di kalangan Nahdiyin saat ini atau dari dulu?. Sudahlah beribadahlah sesuai kemampuanmu serta imbalanmu!!. Itukah yang muncul di benak sufi manakala keringkat kering terkikis habis sementara dollar jauh tergantung di atap mesiu?. Yang pe en es saja mereka kembang kempis menghidupi anak dan keluarga mereka yang nyata-nyata sudah dikontrak seumur hidup oleh pemerintah dan dijamin hidupnya sampe mati. Nyatanya mereka sekolah, SK mereka juga banyak yang disekolahkan sampai akhir pensiun bahkan akhir hayatnya sungguh sangat tragis. Terus bagaimana nasib pengajar-pengajar yang tidak memiliki baju kebesaran tanggal 17, NIP dan nama serta emblem, tengoklah mereka bagaimana kerasnya upaya mencerdaskan anak bangsa, mudah sekali dibayangkan susah dan tidak akan mau merasakan hal serupa. Dan sekelumit kisah yang lain terus bergulir dalam nuansa alam pendidikan.

    Sementara yang lebih payah jajaran elit sekolah meraung meraup ambisi meniti rupiah demi rupiah menggeser rintangan yang dilaluinya tanpa sadar maupun meliriknya. Menghardik, memfitnah, bahkan menjatuhkan kawan dan lawan untuk keserakahan akhlak membesarkan buah hati. Mampukah dikatakan barokah rupiah yang berubah jadi dollar tersebut menembus perut-perut buah hati mereka meninggalkan luka yang parah. Saya membuat gubahan ornamen tulisan ini mencoba merubah kondisi madani menjadi kondisi islami yang sederhana tanpa kiasan apa-apa supaya mampu menerjemahkan arti silaturahmi nantinya. Karena siapa lagi yang mau dan berani berbicara lewat tatap muka maupun lewat lembaran kertas ini kalau bukan manusia biasa seperti saya. Marilah kita duduk sama rata beralaskan tikar yang lusuh disamping comberan dengan bau menyengat supaya masing-masing bisa merasakan pahit getirnya hidup di alam fana ini secara istiqomah. Istiqomah mencintai sesama, istiqomah memberi rasa aman bukannya istiqomah dalam beribadah dengan kandungan maksud selain Allah. Dan istiqomah mutlak kepada Allah. Tentunya sangatlah sulit kalau kita istiqomah dalam berjamaah, sudah sholat saja sudah bisa dikatakan syukur nikmat walaupun bolong-bolong. Semua yang menilai adalah Allah dan gambaran pahalanya tentunya wewenang Allah juga. Sadarkah setiap waktu kita mendolimi makhluk tanpa sadar, nyamuk yang kita bunuh contoh kecil makhluk yang butuh hidup walaupun dia sebagai virus.

    Sedikit wawasan keilmuan religi yang saya miliki, namun setiap detik dan setiap saat saya selalu merenung lewat berjalannya waktu untuk mencari kehendak Allah ke makhluk-makhluknya siang dan malam. Berharap bisa menemukan surganya Allah kelak di negeri keabadian (akherat). Alhamdulillah saya merampungkan coretan ini, berharap perubahan yang mendasar di lingkungan masyarakat madani kita, bahwa hidup haruslah selalu bersyukur namun setiap usaha seorang pemikir tidaklah tepat kalau dikasih pahala seperti seorang pencari kayu bakar di tengah hutan belantara yang modern ini. Apalagi disusupi dengan manusia-manusia yang mencoba menghancurkan sistim menaikkan ambisi pribadi yang masih dipertahankan keberadaannya. Minimal terkandung maksud supaya mawas diri bahwa hidup bersama rekan kerja haruslah saling menopang satu sama lain bukannya meluangkan waktunya untuk membunuh temannya sendiri tanpa nafas kesadaran hati. Demikian apa yang saya paparkan secara jelas dan membingungkan bagi pembacanya. Terima kasih bagi yang membacanya, syukur bisa dimengerti harapannya bisa ditindaklanjuti menjadi suatu keadaan yang menyenangkan atau riilnya. Berharap juga jadilah upaya pemulihan kehendak bagi yang diberi mandat.. Wallahu ‘alam ….. Amien

    Penulis,
    Sison Garichu (Muhshonu Rohman, ST)
    Pengajar SMK Ma'arif 1 Kroya
    [email protected]

    0

    POLEMIK BANGSA BESAR (INDONESIA)

  • Nurkholish Ardi Firdaus
  • POLEMIK BANGSA BESAR (INDONESIA)

    Berbicara politik dan ngomong berkoar masalah gejolak gerakan bangsa akan terbentur dengan tajamnya serangan balik dari upaya-upaya lain yang mencoba ingin ikut andil menjadi yang nomor wahid. Kenapa demikian, hal ini sudah sepantasnya ada karena setiap sebab ada akibatnya, kata semua orang yang menjadi pemikir. Dari rentetan sejarah bangsa Indonesia dari dekade demi dekade, bangsa ini sudah kenyang dengan penderitaan - rakyatnya (red), sehingga bagaimanapun caranya mengisi kemerdekaan yang ada adalah gejolak demi gejolak yang selalu mengiringi. Kurang rame rasanya bila waktu kemerdekaan tidak diisi dengan hujat menghujat, demo, orasi dan semua hal yang berbau pembenaran dan hak. Setiap penjajahan di dunia akan meninggalkan luka demi luka yang tidak akan pulih sampai ratusan tahun ke depan. Tidak ada penjajah yang berhati baik, namun banyak penjajah tetap akan menuangkan ide dan argumennya terhadap bangsanya sendiri sehingga mereka juga akan berfikir bagaimana bila sebaliknya dialah yang dijajah. Sehingga bentuk dari sanggahan mereka adalah mereka juga ikut membesarkan bangsa yang dijajahnya dengan usaha-saha yang konkrit maupun berupa perubahan-perubahan yang ikut membantu pola fikir masyarakat jajahannya.

    Kita sudah merdeka sekarang, produk-produk hasil karya penjajah masih ikut tertinggal dan bahkan masih menjadi tolak ukur untuk memajukan negara. Yah memang berat menjadi diri sendiri, masyarakat dan bangsa sudah mengalami pahit getirnya keadaan. Bagaimana sulitnya hidup menghidupi keluarga dan anak-anak mereka. Mencerdaskan buah hati mereka dengan berbagai kondisi dari yang naiknya cabe sampai naiknya daging bahkan ‘naiknya bapak di atas ibu sehingga muncul lagi adiknya si Upin’. Disertainya menumpuknya keinginan demi keinginan untuk menikmati hidup enak, makan enak, tidur nyaman ‘ngorok’, punya uang bisa beli apapun yang diinginkan. Naluri masyakat hasil karya penjajah masih muncul bahkan jauh sebelum penjajah datang yaitu jamannya kerajaan. Upeti-upeti dan tumpukan suap menyuap sudah istiqomah seperti aliran darah sampai sekarang; pajak, PPn, pungli dan apapun namanya selalu menyusup pada urat nadi perekonomian. Dan tingkatan sosial masih kental pada sebagian masyarakat yang ada walaupun sudah banyak bergeser oleh rodanya jaman. Sehingga lahirlah yang namanya masyarakat hedonis desentralis, masyarakat yang luntur secara perlahan topangan ilmu dan nilai religi karena faktor lemahnya hubungan, lemahnya aturan dan lemahnya pemenuhan perut keluarga mereka.

    Berjuang meneruskan hidup di dunia adalah nyata, berjuang melanjutkan harapan akherat adalah semu. Mengapa demikian, itu semua adalah bentuk dari tataran peradaban. Setiap perubahan kepemimpinan baik yang umaro maupun untuk kepentingan umat oleh Tuhannya; nabi, rosul, wali dan orang alim, akan memunculkan dua buah telapak tangan dengan warna yang berbeda, ibarat langit dan bumi, jiwa dan raga, siang dan malam. Satu sisi adalah iblis dan sisi yang lain adalah malaikat, dan itu sudah ada sejak jaman ini timbul. Namun berangkat dari itu, bagaimanakah seorang anak manusia dengan maqom yang biasa bisa menjadi sempurna, sempurna dalam menerjemahkan makna dari Tuhannya, sempurna dalam sosialisasi dengan lingkungannya sempurna dalam hubungan lawan jenis dan sempurna dalam menjadi pemimpin umat dan bangsa serta sempurna menjadi kholifah Allah. Adalah samar bila itu digulirkan, karena kehendak Tuhan tidaklah sama dengan keinginan seorang Presiden, DPR ataupun rakyatnya. Kehendak Tuhan adalah satu kehancuran umat atau kemaslahatan umat. Sementara kehendak rakyat adalah hidup tentram, bisa mencari nafkah dengan tenang, ekonomi terjangkau. Kehendak seorang Presiden bisa dikenang sepanjang sejarah sebagai pemimpin yang sukses mengayomi rakyatnya. Kehendak DPR tidak mau dinilai pemerintah dan jadi tolak ukur pemulihan dan pembuat hukum masyarakat setelah hukum Tuhannya dan sebagainya gambaran-gambaran pikiran dan ambisi.

    Banyak harapan bangsa dimunculkan untuk kemakmuran semuanya, kemakmuran segala kewajiban dan hak rakyat, kemakmuran mengisi nilai demokrasi, kemakmuran memperjuangkan nasib semua elemen masyarakat, kemakmuran dalam segala aspek pada tataran masyarakat menuju masyarakat yang madani (Islam), modern dan beradab.

    Sejalan dengan itu semua, sampai saat ini kita sudah banyak mengalami pasang surutnya keadaan pada kemerdekaan, era orde baru (orasi depak bicara remuk), era reformasi (rentetan forum koalisi) dan entah era apa lagi yang akan muncul, mungkin era Srimulat atau Tukul Arawana. Banyak keadaan yang membingungkan dan tidak manusiawi. Keadaan yang indah saat semua orang menerima nikmatnya imbalan bila sedang kampanye partai. Padahal yang ikut konvoi di jalan adalah orang itu-itu saja. Ya ikut partai ini, partai itu dan partai-partai yang lainnya. Asal dapat uang saku dan bensin langsung turun jalan sorak-sorai bersama, padahal nama calon Bupatinya saja ndak tahu. Janji-janji calon pemimpin Negara disampaikan manis semanis wajahnya Jupe dan itulah sekelumit wajah birokrasi. Pada sisi yang lain bisa disaksikan kemajuan teknologi informasi dan bisnis, semua dibisniskan dari barang pecah belah sampai barangnya wanita diperjual belikan seperti kacang goreng. Dari perdagangan illegal sampai perdagangan bebas, bebas berdagang menjual produk luar dengan nyaman dan mudah. Begitu ramainya kemajuan era reformasi mendominasi wajah-wajah yang haus akan kecerdasan dan pembenaran sendiri. Semua saling beragumen, semua menuangkan ide dan ambisi untuk jadi sorotan pers. Sehingga semua mengkambinghitamkan atas nama rakyat, padahal yang namanya rakyat itu siapa. Dan yang harus diperhatikan siapa. Ada hal heboh lagi, yang sudah terkenal kepengin lebih terkenal dan mampu dalam segala bidang yang artis pingin jadi pejabat, yang pejabat banyak mengoleksi artis, yang ulama pingin jadi selebritis, yang selebritis jadi selir ulama. Yang teroris menyamar jendral yang jendral jotosan kaya teroris. Setidaknya antara kebutuhan hati dengan kebutuhan finansial, perut dan dibawah perut berkecamuk dan saling melengkapi, tetapi harkat dan martabat masih ditutupi. Hanya Tuhan yang masih menutup aib-aib mereka semua sehingga masih diperhatikan banyak orang. Bila hal itu hilang hanya nasi yang sudah menjadi bubur yang bisa disaksikan. Banyak orang akan bingung mencari jati dirinya karena figur-figur panutan mereka telah hilang dari pandangan.

    Bangsa yang besar adalah bangsa yang mau mengingat akan jasa-jasa pahlawannya, karena bangsa yang besar terwujud oleh semangat-semangat para pencetus dan pemikir birokrasi yang sebenarnya. Sebenarnya memperjuangkan nasib para rakyatnya dari kelaparan, kesusahan dan dari sifat tamak orang-orang yang berambisi secara pribadi. Sulit sekali mencari wajah para pahlawan pada era reformasi sekarang. Apakah memang sudah sangat maju jamannya sehingga sulit menemukan sebuah pola fikir mengayomi pada diri insan setiap warga Negara, atau bagaimana?. Di setiap lini dan institusi sudah penat dengan yang namanya hujat menghujat, suap menyuap, korupsi. Ambisi pribadi, kelompok, partai dan banyak macam ragam politik praktis dikemas dengan asyik sehingga pers bisa mempermainkan atau dipermainkan dengan seenaknya. Ada masalah menyangkut orang hebat dialihkan dengan masalah lain. Ada masalah dewan jendral terungkap atau diungkap, kasus century raib. Ada masalah yang urgen harus diselasaikan dialihkan dengan konflik yang lain. Sebetulnya banyak masyarakat kita yang sudah kenyang dengan hal demikian. Namun yang namanya “uang” adalah rajanya otak. Siapa punya uang apapun bisa dibeli. Dari membeli hewan piaraan sampai membeli orang untuk diperas keringatnya.

    Saudara sebangsa dan setanah air, marilah kita tersadar dari keadaan semua itu. Berangkatlah dengan niat yang baik meneruskan cita-cita para pahlawan dulu. Dulu mereka dijajah, mereka berjuang untuk bisa merdeka dengan darah dan airmata mereka. Setelah merdeka juga banyak orang yang meneruskan nilai kepahlawanan dengan bekerja keras mengisi kemerdekaan dengan sebaik-baiknya. Setelah maju lalu bagaimana lagi? Kita isi dengan mempertahankan etika dan budaya bangsa supaya tidak luntur tercampur dengan budaya lain yang merusak. Setelah itu kita benahi lagi menjadi masyarakat yang modern, madani dan damai. Modern dalam mengatasi setiap konflik di segala bidang tentunya dengan pemikiran yang demokrasi yang harus selalu dikedepankan di semua sektor dan departemen, di semua lembaga legislatif dan eksekutif dan di semua jajaran masyarakat. Madani dalam artian kemajemukan ekosistem agamis di Indonesia. Dengan prularisme agama yang ada bukan menjadi halangan untuk tetap satu tujuan demi kemakmuran Negara. Damai dalam hal menuangkan ide dan kritik membangun. Buang asumsi-asumsi bodoh yang terperangkap dengan pintarnya bangsa lain untuk merekrut kesenjangan bernegara. Bila hal itu semua bisa diresapi oleh para pejabat Negara diteruskan ke khalayak umat, maka tidak menutup kemungkinan kita akan menjadi bangsa yang besar dengan ragam polemik bangsa yang mampu diterjemahkan dalam setiap forum dengan mencapai satu tujuan kesepakatan bersama. Kalau itu semua berjalan lengkaplah arti semua sila yang ada di Pancasila dan bukan omong kosong belaka, sampai kapankah ini akan tercapai??. Jawabnya adalah pada siapakah yang akan memimpin Negara ini dengan tolak ukur yang demikian!!!.
    Sebuah teka-teki besar ada pada setiap benak masyarakat kita. Yang kita lihat bersama sampai sekarang semua terbuai dengan dorongan IT yang membodohkan, terbuai dengan hiburan murahan yang melemahkan daya intuisi untuk menganalisa kedewasaan. Terbuai dengan hidup modern serba kecukupan dan mampu membeli apapun yang bisa dibeli. Berbondong-bondong mencari sesuap nasi ke negeri orang dengan menelantarkan anak-anak mereka. Menuangkan ambisi bisnis mereka seluas-luasnya semua dituangkan dalam bentuk bisnis dan infotaimen. Glamour dan memabukkan. Inilah sebetulnya kiamat yang dijanjikan atau dirumuskan Allah bahwa suatu zaman akan menenggelamkan seisi bumi bilamana ilmu sudah dibuka selebar-lebarnya, sehingga manusia akan takjub dengan kehedonisan dan kesenangan serta melupakan sang pencipta. Saatnya anugrah Allah jadi murka yang luar biasa. Apalah yang akan mampu menerjangnya saat itu terjadi??? Kemajuan IT, kecanggihan pola fikir atau apa??. Semua takkan ada guna bila telah datang azab menerjang alam.

    Saudara sebangsa dan setanah air, marilah kita berdoa bersama untuk keselamatan bangsa ini, apapun bentuknya kita hidup di Indonesia susah dan senang akan selalu kita hadapi. Disinilah kita meneruskan hidup untuk membesarkan buah hati kita dan meneruskan cita-cita kita yang tertunda. Apa yang akan kita banggakan dan ceritakan ke anak cucu kita bila bangsa yang besar ini tumbang karena ulah kita sendiri. Sungguh menyedihkan menyaksikan anak cucu kita terlantar menjadi manusia yang kurang berguna bagi diri dan negaranya. Tentunya bukanlah hal demikian yang akan kita temukan dan kita harapkan ke depan. Adalah masa depan yang baik semoga selalu mengiringi bangsa yang besar ini. Kita tidak akan mampu bertahan hidup sampai ratusan tahun. Generasi dan generasi akan tumbuh saling menggantikan satu sama lain. Dan generasi yang selalu naik dalam segala hal yang harus kita upayakan bersama bukannya generasi yang broken home, arogan dan tidak manusiawi yang kita harapkan.

    Sadarkan diri kita semua secepatnya, demi kelangsungan bangsa yang sudah besar ini, marilah duduk sebagai masyarakat humanis yang peduli kepada sesama demi kelangsungan bangsa ini ke depan. Subhanallah kita masih menjadi bangsa Indonesia bangsa yang mampu menjadi pribadi yang damai, semoga bangsa ini akan tetap baldatun thoyibatun wa rabbun ghofur sepanjang zaman… Amien.

    Salam…


    Penulis

    Sison Garichu (Muhshonu Rohman, ST)
    Pengajar SMK Ma’arif 1 Kroya - Cilacap
    [email protected]

    Subscribe